Jumat, 16 September 2011

PENDIDIKAN DI THAILAND DAN FILIPINA

PENDIDIKAN DI THAILAND DAN FILIPINA
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Perbandingan Pendidikan Negara Islam
Dosen Pembimbing:
DR. Hasan Darojat, M.A.




Disusun Oleh:
FATIMATUZZAHRO
0308376

PROGRAM STUDI KEPENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DARUNNAJAH
JAKARTA SELATAN
2011
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam rangka tercapainya tujuan pendidikan, maka perlu dikembangkan sistem pendidikan yang digunakan. Demi mendapatkan sistem pendidikan yang sempurna perlu diadakan perbandingan, karena masing-masing negara baik yang maju maupun berkembang memiliki sistem pendidikan yang berbeda-beda. Dimana pada setiap yang berbeda itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Untuk itu, pada bab selanjutnya akan dibahas mengenai pendidikan di dua negara Asia Tenggara, yaitu Thailand dan Filipina. Akan disebutkan secara singkat letak geografis masing-masing negara dan sejarahnya. Juga dijelaskan keadaan sistem pendidikan kedua negara tersebut. Pada bab III akan disimpulkan kelebihan dan kekurangan pada pendidikan di Thailand dan Filipina.






BAB II
PENDIDIKAN DI THAILAND DAN FILIPINA

A. Pendidikan di Thailand
1. Letak Geografis Thailand
Kerajaan Thai, yang lebih sering disebut Thailand dalam bahasa Inggris, atau dalam bahasa aslinya Mueang Thai (dibaca: "meng-thai", sama dengan versi Inggrisnya, berarti "Negeri Thai"), adalah sebuah negara di Asia Tenggara yang beribukota di Bangkok. Bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Thai. Bentuk pemerintahannya adalah monarki konstitusional, yang dipimpin oleh raja dan dikepalai oleh perdana menteri.
Negeri seluas kurang lebih 510.000 km² ini kira-kira seukuran dengan Perancis. Di sebelah barat dan utara, Thailand berbatasan dengan Myanmar, di timur laut dengan Laos, di timur dengan Kamboja, sedangkan di selatan dengan Malaysia. Koordinat geografisnya adalah 5°-21° LU dan 97°-106° BT.


2. Sejarah Thailand
Asal mula Kerajaan Thai secara tradisional dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek, Kerajaan Sukhothai yang didirikan pada tahun 1238. Kerajaan ini kemudian diteruskan Kerajaan Ayutthaya yang didirikan pada pertengahan abad ke-14 dan berukuran lebih besar dibandingkan Sukhothai. Kebudayaan Kerajaan Thai dipengaruhi dengan kuat oleh Tiongkok dan India. Hubungan dengan beberapa negara besar Eropa dimulai pada abad ke-16 namun meskipun mengalami tekanan yang kuat, Kerajaan Thai tetap bertahan sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh negara Eropa, meski pengaruh Barat, termasuk ancaman kekerasan, mengakibatkan berbagai perubahan pada abad ke-19 dan diberikannya banyak kelonggaran bagi pedagang-pedagang Britania.
Sebuah revolusi tak berdarah pada tahun 1932 menyebabkan dimulainya monarki konstitusional. Sebelumnya dikenal dengan nama Siam, negara ini mengganti nama internasionalnya menjadi "Thailand" pada tahun 1939 dan untuk seterusnya, setelah pernah sekali mengganti kembali ke nama lamanya pasca-Perang Dunia II. Pada perang tersebut, Kerajaan Thai bersekutu dengan Jepang; tetapi saat Perang Dunia II berakhir, Kerajaan Thai menjadi sekutu Amerika Serikat. Beberapa kudeta terjadi dalam tahun-tahun setelah berakhirnya perang, namun Kerajaan Thai mulai bergerak ke arah demokrasi sejak tahun 1980-an.
3. Sistem Pendidikan di Thailand
Sistem pendidikan di Thailand memiliki kesamaan dengan sistem pendidikan di Indonesia dan terdapat juga perbedaannya. Sistem pendidikan di Thailand terbagi menjadi 3, yaitu: pendidikan formal, pendidikan non-formal dan pendidikan informal. Untuk sistem pendidikan formal terdiri dari pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. sedangkan sistem pendidikan non-formal terdiri dari: program sertifikat kejuruan, program short course sekolah kejuruan dan interest group program.
Wajib belajar di Thailand adalah wajib belajar 9 tahun, dengan rincian grade sebagai berikut :
a. Pendidikan Play Group dan TK usia 3-6 tahun
b. Pendidikan Sekolah Dasar (selama 6 tahun), grade 1-6
c. Pendidikan Sekolah Menengah (selama 3 tahun), grade 7-9
d. Pendidikan Sekolah Menengah atas (selama 3 tahun), grade 10-12
Untuk grade 7-12 dalam satu komponen sekolahan, mereka tak harus mendaftar lagi , sudah otomatis melanjutkan di sekolah itu.
Ujian Nasional (UN) di Thailand dikoordinasikan oleh Bureu of Education Testing Office dari Komisi Pendidikan Dasar yang memakai Sistem Ordinary National Education Test (O-net). UN di wajibkan untuk grade 3, 6, 9 dan 12. Ada 8 mata pelajaran yang di-UN kan yaitu :
a. Bahasa Thai
b. Matematika
c. Science
d. Ilmu sosial
e. Agama dan Kebudayaan
f. Bahasa asing
g. Health and Physical Education
h. Art, Career and Technology
Sedangkan siswa dari grade 1,2,4,5,7,8,10 dan 11, mengikuti ujian kelas dari sekolah masing-masing yang mengacu dari Office of Academic Affair , Kementrian Pendidikan Thailand, secara serentak.
Pondok (sekolah agama) di Thailand Selatan secara keseluruhan dapat dikatakan sama dengan pesantren di Jawa atau tempat-tempat lain di Indonesia pada tahun 1950/60-an sebelum mengalami modernisasi. Kini, setelah kerusuhan merebak di Patani atau kawasan Muslim Melayu di Thailand Selatan dalam dua tahun terakhir, pondok menjadi tertuduh sebagai tempat pusat perlawanan atas pendekatan keamanan yang dilakukan pemerintah Thailand. Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, secara terbuka menyatakan bahwa ia tak akan memberikan toleransi kepada pondok yang seperti itu.
Pondok Patani umumnya masih sangat tradisional, bagi kaum Melayu Muslim Thailand Selatan ia adalah lebih dari sekadar lembaga pendidikan Islam. Tetapi juga merupakan salah satu identitas keagamaan dan budaya. Jadi, ancaman penutupan pondok oleh pemerintah, langsung maupun tidak merupakan pembunuhan ‘genocide’ religius-kultural.
Dalam wawancara dengan TV3 Thailand di sela-sela workshop di Nakun Si Tamarat, dikemukakan bahwa penyebab pergolakan di Thailand Selatan sedikitnya ada empat :
Pertama, pendekatan kekerasan yang dilakukan Thaksin, yang akhirnya melahirkan lingkaran kekerasan. Dalam menghadapi unjuk rasa damai misalnya, Thaksin tidak segan-segan mengerahkan kekuatan militer yang mengorbankan orang Muslim Patani. Ini segera dibalas dengan taktik gerilya maka kekerasan berlanjut.
Kedua, kondisi ekonomi yang buruk di Thailand Selatan. Meski ekonomi Thailand meningkat tetapi tidak banyak perkembangan ekonomi di Thailand Selatan. Mereka tetap miskin dan terbelakang.
Ketiga, monolitisme budaya Thai (Siam) dengan mengorbankan budaya Melayu Muslim. Sejak tahun 1970-an Pemerintah Thailand melakukan “Siamisasi” dengan mewajibkan orang-orang Muslim Patani menggunakan nama dan bahasa Thai (yang sama sekali tak ada ikatan budaya/tidak serumpun).
Keempat, terbelakangnya pendidikan, karena kurangnya perhatian pemerintah Thailand.

B. Sistem Pendidikan di Filipina
1. Letak Geografis Filipina
Filipina adalah sebuah negara republik di Asia Tenggara, sebelah utara Indonesia dan Malaysia. Filipina beribukotakan Manila. Bahasa resmi yang digunakan ialah bahasa Filipino (Tagalog) dan bahasa Inggris. Bentuk pemerintahannya ialah republik, yang dipimpin oleh presiden dan wakil presiden.
Filipina terdiri dari 7.107 pulau dengan luas total daratan diperkirakan 300.000 km². Negara ini terletak antara 116° 40' dan 126° 34' T. longitude, dan 4° 40' dan 21° 10' LU. latitude. Di timur dia berbatasan dengan Laut Filipina, di barat dengan Laut China Selatan, dan di selatan dengan Laut Sulawesi. Pulau Borneo terletak beberapa ratus kilometer di barat daya dan Taiwan di utara. Maluku dan Sulawesi di selatan, dan di timur adalah Palau.
2. Sejarah Filipina
Peninggalan tertulis Filipina dimulai sekitar abad ke-8 berdasarkan temuan lempeng tembaga di dekat Manila. Dari tulisan pada lempeng itu diketahui bahwa Filipina berada dalam pengaruh Sriwijaya. Namun demikian, bukti tertulis ini sangat sedikit sehingga bahkan ahli-ahli sejarah Filipina masih beranggapan sejarah Filipina dimulai pada era kolonialisme.
Sebelum orang-orang Spanyol datang pada abad ke-16, di Filipina berdiri kerajaan-kerajaan kecil yang bercorak animisme yang terpengaruh sedikit kultur India dan yang bercorak Islam di bagian selatan kepulauan. Kerajaan-kerajaan muslim ini mendapat pengaruh kuat dari Kerajaan Malaka.
Sepanjang masa 265 tahun, Filipina merupakan koloni Kerajaan Spanyol (1565-1821) dan selama 77 tahun berikutnya diangkat menjadi provinsi Spanyol (1821-1898). Negara ini mendapat nama Filipina setelah diperintah oleh penguasa Spanyol, Raja Felipe II. Setelah Perang Spanyol-Amerika pada tahun 1898, Filipina diperintah Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi sebuah persemakmuran di bawah Amerika Serikat sejak tahun 1935. Periode Persemakmuran dipotong Perang Dunia II saat Filipina berada di bawah pendudukan Jepang. Filipina akhirnya memperoleh kemerdekaannya (de facto) pada 4 Juli 1946. Masa-masa penjajahan asing ini sangat memengaruhi kebudayaan dan masyarakat Filipina. Negara ini dikenal mempunyai Gereja Katolik Roma yang kuat dan merupakan salah satu dari dua negara yang didominasi umat Katolik di Asia selain Timor Leste.
Filipina seringkali dianggap sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara di mana pengaruh budaya Barat terasa sangat kuat. Filipina adalah negara paling maju di Asia setelah Perang Dunia II, namun sejak saat itu telah tertinggal di belakang negara-negara lain akibat pertumbuhan ekonomi yang lemah, penyitaan kekayaan yang dilakukan pemerintah, korupsi yang luas, dan pengaruh-pengaruh neo-kolonial. Saat ini Filipina mengalami pertumbuhan ekonomi yang moderat, yang banyak disumbangkan dari pengiriman uang oleh pekerja-pekerja Filipina di luar negeri dan sektor teknologi informasi yang sedang tumbuh pesat.
Masalah-masalah besar negara ini termasuk gerakan separatis muslim di sebelah selatan Mindanao, pemberontak-pemberontak dari Tentara Rakyat Baru (New People's Army) yang beraliran komunis di wilayah-wilayah pedesaan, kebijakan-kebijakan pemerintah yang sering tidak konsisten, tingkat kejahatan yang makin meningkat, dan kerusakan lingkungan seperti penebangan hutan dan polusi laut. Filipina juga mengalami masalah banyaknya penduduk di daerah-daerah perkotaan akibat kurangnya lapangan pekerjaan di wilayah pedesaan dan tingkat kelahiran yang tinggi.
3. Sistem Pendidikan di Filipina


a. Pra-Pendidikan Dasar
Pra-pendidikan dasar disediakan untuk anak berusia 3-5 tahun. Program yang ditawarkan beragam seperti Nursery (Pendidikan Anak Usia Dini) untuk anak usia 3-4 tahun, kindergarten (TK) untuk usia 4-5 tahun, dan Sekolah Persiapan SD untuk usia 5-6 tahun.
b. Pendidikan Dasar
Sekolah Dasar, terdiri dari 6 tingkat, beberapa sekolah menambahkan tingkat tambahan (tingkat ke-7). Tingkat-tingkat ini dikelompokkan menjadi dua subdivisi utama, Tingkat Primer (dasar) meliputi 3 tingkat pertama, dan Tingkat Intermediet (lanjutan) terdiri dari 3 atau 4 tingkat. Penyelenggaraan enam tahun pendidikan dasar ini wajib dan disediakan gratis di sekolah-sekolah umum.
(1) Sekolah Publik
Mata Pelajaran Inti: Matematika, Ilmu Pengetahuan, Bahasa Inggris, Bahasa Filipina, Dan Makabayan (Ilmu Sosial, Pendidikan Kehidupan, Nilai-Nilai). Pada tingkat ke-3 ditambahkan mata pelajaran Sains. Mata Pelajaran Lainnya: Musik, Seni, dan Pendidikan Jasmani.
(2) Sekolah Swasta
Mata Pelajaran: Matematika, Bahasa Inggris, Sains, Ilmu Sosial, Komputer Dasar, Bahasa Filipina, Musik, Seni dan Teknologi, Ekonomi Kerumahan, Kesehatan, Pendidikan Jasmani. Di Sekolah Katolik diberikan materi Pendidikan Agama atau Kehidupan Umat Kristen. Pada Sekolah Internasional dan Sekolah Cina diberikan mata pelajaran tambahan berupa Bahasa dan Budaya.
Bahasa pengantarnya ialah Bahasa Inggris. Bahasa Filipina digunakan dalam pengajaran Makabayan dan Bahasa Filipina,
selain juga digunakan bahasa-bahasa daerah seperti Cebuano, Hiligaynin, Bicolano, dan Waray. Bahasa Arab digunakan di Sekolah-sekolah Islam. Di Sekolah Cina diajarkan dua tambahan bahasa Cina Hokkien dan Cina Mandarin. Sekolah Internasional umumnya menggunakan Bahasa Inggris di semua mata pelajaran.
National Elementary Achievement Test (NEAT), ujian nasional SD, yang orientasinya adalah sebagai tolak ukur sekolah kompetensi, bukan sebagai pengukur kecerdasan siswa, dihapuskan pada tahun 2004, dan pada tahun 2006 diberlakukan hanya kepada sekolah swasta untuk ujian masuk sekolah menengah. Dengan dihapuskannya NEAT para siswa tidak perlu menghasilkan skor apapun untuk mendapatkan pengakuan ke sekolah tinggi negeri. Departemen Pendidikan kemudian mengubah NEAT dan menggantikannya dengan National Achievement Test (NAT). Sekolah dasar publik dan swasta mengambil ujian ini untuk mengukur kompetensi sekolah.
c. Pendidikan Menengah
Pendidikan sekolah menengah di Filipina terdiri dari empat tahun dan disediakan secara gratis di sekolah-sekolah umum, ditujukan kepada siswa-siswa berusia 12-16. Pendidikan Menengah bersifat terkotak, yaitu setiap tingkat berfokus kepada tema atau isi tertentu, sehingga sering disebut sebagai sekolah tinggi. Pendidikan Menengah:
Tahun ke-1 (Freshman): Aljabar I, Sains Terintegrasi, bahasa Inggris I, bahasa Filipina I, dan Sejarah Filipina.
Tahun ke-2 (Sophomore): Aljabar II, Biologi, bahasa Inggris II, bahasa Filipina II, Sejarah Asia.
Tahun ke-3 (Junior): Geometri, Kimia, bahasa Filipina III, sejarah Dunia, dan Geografi.
Tahun ke-4 (Senior): Kalkulus, Trigonometri, Fisika, bahasa Filipina IV, Sastra, dan Ekonomi.
Pelajaran tambahan meliputi Kesehatan, Ilmu Komputer Lanjutan, Musik, Seni, Teknologi, Ekonomi Kerumahan, dan Pendidikan Jasmani. Pada Sekolah-Sekolah Eksklusif ditawarkan mata pelajaran pilihan meliputi berbagai macam Bahasa, Pemrograman Komputer, Menulis Sastra, dan lainnya. Sekolah Cina memberikan tambahan pelajaran Bahasa dan Budaya. Sekolah Persiapan (Pra-Pendidikan Tinggi) memberikan beberapa kursus Bisnis dan Akutansi, sedangkan Sekolah Sains memberikan mata pelajaran Biologi, Kimia, dan Fisika pada setiap tingkat.
National Achievement Test Sekunder (NSAT) yang dikelola oleh Departemen Pendidikan adalah ujian di akhir tahun ke-4 sekolah menengah, namun kemudian ditiadakan. Kini setiap sekolah publik atau swasta menyelenggarakan sendiri ujian masuk pendidikan di Perguruan Tinggi (College Entrance Examinations, CEE).
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, siswa dapat memilih untuk mengambil Pelatihan Kejuruan 2 atau 3 tahun atau melanjutkan ke Perguruan Tinggi (Universitas).
d. Pendidikan Teknik dan Kejuruan
Pendidikan Teknik dan Kejuruan (TESDA), adalah suatu badan yang mengawasi pendidikan pasca-sekolah menengah pendidikan teknis dan kejuruan, termasuk orientasi keterampilan, pelatihan dan pengembangan pemuda luar sekolah dan masyarakat pengangguran dewasa. TESDA dikelola oleh Dewan Tenaga Kerja dan Pemuda (NMYC) dan Program magang dari Biro Ketenagakerjaan Lokal (BLE), keduanya dari Departemen Pekerjaan dan Ketenagakerjaan (DOLE) bekerjasama dengan Biro Pendidikan Teknis dan Kejuruan (BTVE) dari Departemen Pendidikan, Kebudayaan, dan Olah Raga (DECS, sekarang DepEd), berlandaskan Undang-Undang Republik Nomor 7796 atau dikenal sebagai “Undang-Undang Pendidikan Teknik dan Pengembangan Keterampilan 1994” yang untuk menyediakan tenaga kerja tingkat menengah bagi industri.
e. Pendidikan Tinggi
Pendidikan Tinggi dikelola oleh Komisi Pendidikan Tinggi (CHED), berdasarkan UU Republik No. 7722 atau UU Pendidikan Tinggi 1994. CHED adalah lembaga independen setingkat departemen yang berasal dan bekerjasama dengan Departemen Pendidikan (DepEd). Tugasnya adalah mengkoordinasikan program-program lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan menerapkan kebijakan dan standar.
Pendidikan Tinggi di Filipina diklasifikasikan menjadi universitas dan perguruan tinggi negeri (SUC) dan universitas dan perguruan tinggi lokal (LCU). SUCs (State Universities and Colleges) adalah lembaga-lembaga pendidikan tinggi publik yang disewa, ditetapkan oleh hukum, dikelola, dan disubsidi secara finansial oleh pemerintah. LUCs (Local Universities and Colleges) merupakan lembaga-lembaga perguruan tinggi yang didirikan dan didukung secara finansial oleh pemerintah daerah.
HEIs (High Education Institutions) adalah lembaga-lembaga Pendidikan tinggi yang berada langsung di bawah lembaga pemerintah yang ditetapkan dalam undang-undang. Mereka menyediakan pelatihan khusus di bidang-bidang seperti ilmu militer dan pertahanan nasional. Sedangkan CSI (CHED Supervised Institution) adalah lembaga pasca pendidkan menengah public yang tidak disewa oleh pemerintah, ditetapkan oleh hukum,dikelola, diawasi, dan didukung secara finansial oleh pemerintah. Adapun OGS (Other Government Schools) adalah lembaga pendidikan menegah dan pasca pendidikan menengah, biasanya merupakan lembaga pendidikan teknis-kejuruan yang menawarkan program pendidikan tinggi.
Amerika sebagai mantan penjajah, memiliki pengaruh besar bagi perkembangan bangsa Filipina. Amerika melakukan berbagai perubahan signifikan bagi Filipina. Sistem pendidikan dan demokrasi dibangun, bahasa Inggris menjadi bahasa nasional, sistem administrasi publik dibuat serta berbagai transformasi “American way“ lainnya dikembangkan ke masyarakat Filipina. Namun, menurut Constantino (1974), sistem pendidikan yang diajarkan oleh Amerika adalah “mis-education” bagi bangsa Filipina. Pendidikan Amerika membuat de-Filipinanisasi bagi generasi mudanya. Mereka menempatkan kultur, nilai, gaya hidup Amerika sebagai ukuran superior yang harus dirujuk. Cerita tentang kejayaan kepahlawan Amerika serta keunggulan institusi Amerika mengobsesi generasi muda, menempatkan model “American society“ sebagai bentuk ideal bagi kehidupan masyarakat Filipina. Hasil akhirnya, Filipina menjadi pasar yang bersahabat bagi membajirnya produk-produk “made in America”.
Dampak dari mis-education inilah yang mungkin menjadi problem besar bagi Filipina dewasa ini. Kemajuan Filipina menjadi bangsa yang kuat tersendat sekalipun berbagai berbagai potensi sudah dimilikinya.
Isu War Against Terrorisme membahana pasca peristiwa 11 September 2001 dan disusul dengan aksi teror di wilayah-wilayah pemerintahan dan lembaga-lembaga asing milik Barat, hal ini memunculkan pula nama Osama bin Laden sebagai pendiri Al-Qaeda yang diduga merupakan jaringan teroris internasional. Selain di AS terorisme pun banyak terjadi di Asia Tenggara, seperti tragedy Bom Bali I yang terjadi tak lama dari peristiwa 911 di Washington DC, pemboman hari Rizal di Filipina 30 Desember 2000, juga pemboman-pemboman beruntun di Indonesia. Rangkaian peristiwa teror di Asia Tenggara diduga adanya keberadaan jaringan terorisme di wilayah ini, mengingat peristiwa tersebut terjadi di saat momen-momen yang penting dan wilayah-wilayah strategis. Namun dalam perjalanannya Indonesia, Malaysia dan Singapura telah menunjukkan keseriusannya dalam membasmi jaringan tersebut di Asia Tenggara. Namun, Filipina yang juga merupakan negara tujuan terorisme cenderung tidak serius menangani hal tersebut. Sementara Filipina dianggap sebagai wilayah yang paling strategis sebagai persemayaman teroris.
Filipina telah mengalami konflik berkepanjangan antara pemerintahan Filipina dengan para separatisan di Moro. MNLF (Moro National Liberalization Front) yang merupakan organisasi separatisan mempersiapkan kelompok tersebut agar lebih kuat. Salamat Hashim yang baru saja pulang dari pendidikannya di Al Azhar menjadikan kelompok ini bercabang, dengan membentuk MILF (Moro Islamic Liberalization Front) yang perjuangannya lebih spesifik memperjuangkan Islam Moro agar memperoleh legitimasi secara independen tanpa adanya intervensi dari pemerintah Filipina.
Keberadaan MILF yang Islam sentris mempermudah jaringan teroris Internasional semacam Al-Qaeda dan JI (Jamaah Islamiyah) masuk kedalamnya dan menyebarkan ideologi jihad. Salamat Hashim merekrut pemuda-pemuda dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura juga dari Filipina itu sendiri. Faktor yang menyebabkan Filipina menjadi tempat jaringan teroris ini mudah karena, pertama, sejak 1990-an merupakan tempat para pemuda didikan JI sebagai pelatihan dan pembentukan militer yang bertujuan membentuk sebuah Negara Islam Indonesia. Kedua, Pemerintahan Filipina kurang efektif dalam usahanya untuk membekuk pergerakan teroris di negaranya, pemantauan arus pendatang dan penduduk serta penyelundupan senjata dan dana yang masuk melalui Filipina Selatan yang juga dapat diakses dari Malaysia. Dan yang terkahir keberadaan separatisan di Moro menjadikan Filipina sasaran empuk, karena separatisan ini membutuhkan dukungan dana dan sumber daya manusia dari para donatur.
Sedangkan proses negosiasi antara pemerintah dengan MILF selalu tidak tercapai dengan baik, selalu saja ada salah satu pihak yang mengingkari isi perjanjian dengan menyerang kamp-kamp milik MILF ataupun sebaliknya dengan menyerang kantor-kantor pemrintahan. Konflik berkepanjangan ini justru menyebabkan akar terorisme di Moro yang semakin kuat, serta beberapa lulusan pendidikan militer zaman invansi Soviet ke Afghanistan menyebabkan solidaritas muslim negara-negara lainnya dengan mengirimkan pemuda-pemuda muslim dalam memberikan pendidikan militer di kamp-kamp Afghanistan. Setelah konflik selesai, para lulusan ini kemudian dimanfaatkan sebagai pendidik bagi pemuda-pemuda yang baru bergabung. Pendidikan yang diberikan berupa pendidikan militer dengan memberikan pengetahuan senjata dan perakitan bom.
Analisanya, bahwa Islam yang menganut sistem khilafah menjadikan seorang tokoh besar dijadikan panutan bagi mereka. Bagaimana seorang Salamat Hashim yang memiliki nama besar dapat menjadi magnet untuk menarik minat pemuda untuk masuk kedalam kelompok tersebut. Penyebaran ideologi pun sangat mudah dilakukan, dengan melakukan ceramah-ceramah di masjid pun dapat mempermudah penyampaian ideologi bagi para militan agar berpegang teguh pada apa yang dilakukannya, yaitu berjuang di jalan Allah dan melakukan jihad demi mati di jalan Allah SWT.
Selain itu negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Filipina merupakan negara-negara yang tingkat perekonomiannya rendah, dan tingkat pendidikan yang miris. Sehingga ini menjadi nilai plus bagi para pendiri MILF dan JI untuk memanfaatkan mereka demi menjalankan misi politiknya.






BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan mengenai pendidikan di Thailand dan Filipina pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
a. Pendidikan di Thailand
1. Kelebihan pendidikan di Thailand:
(a) Adanya sistem pendidikan formal, non-formal, dan informal.
(b) Wajib belajar 9 tahun.
(c) Adanya UN dan ada 8 mata pelajaran yang diujikan dalam UN.
2. Kekurangan pendidikan di Thailand:
(a) Pondok pesantren dipandang sebelah mata oleh pemerintah Thailand.
(b) Ekonomi yang buruk dan terbelakangnya pendidikan di Thailand Selatan, karena kurangnya perhatian dari pemerintah Thailand.
b. Pendidikan di Filipina
1. Kelebihan pendidikan di Filipina:
(a) Pada sekolah dasar, diwajibkan dan disediakan gratis di sekolah-sekolah umum. Juga pada pendidikan menengah, disediakan gratis.
(b) Bahasa pengantarnya ialah bahasa Inggris.
(c) Pada sekolah menengah, kurikulumnya bersifat terkotak (setiap tingkat terfokus pada tema atau isi tertentu).
(d) Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, siswa dapat memilih untuk mengambil Pelatihan Kejuruan 2 atau 3 tahun atau melanjutkan ke Perguruan Tinggi (Universitas).
2. Kekurangan pendidikan di Filipina:
(a) Sistem pendidikan yang kebarat-baratan. Bukan sistem pendidikan yang sesuai dengan jati dirinya sendiri.
(b) Perekonomian yang rendah dan pendidikan yang miris menyebabkan mereka mudah dimanfaatkan dalam misi terorisme.











DAFTAR PUSTAKA

http://berhitung.wordpress.com/2010/06/02/mengenal-sistem-pendidikan-di-thailand/,
http://ferizalramli.wordpress.com/2009/01/02/filipina-warisan-dari-tradisi-yang-salah/
http://hankam.kompasiana.com/2011/01/12/fights-against-terorisme/
http://id.wikipedia.org/wiki/Filipina
http://id.wikipedia.org/wiki/Thailand
http://www.kosmaext2010.com/pendidikan-islam-di-thailand-selatan-materi-siat.php,
http://www.scribd.com/doc/24330187/Sistem-Pendidikan-Di-Negara-negara-Asean
http://www.wisatathailand.com/tentangthailand.htm

1 komentar: