Jumat, 16 September 2011

PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMIKIRAN ZAINUDDIN LABAY EL-YUNUS

PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMIKIRAN ZAINUDDIN LABAY EL-YUNUS
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pembimbing:
Dayang Salamah, M. Pd.


Disusun Oleh:
Prita Delita
Tiam Astuti
Fatimatuzzahro


PROGRAM STUDI KEPENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DARUNNAJAH
JAKARTA SELATAN
2010
BAB I
PENDAHULUAN

Untuk dapat mengenal pendidikan secara lebih mendalam perlu ditelaah pandangan-pandangan orang-orang yang berdedikasi dalam dunia pedidikan. Dalam makalah ini akan dibahas tentang pendidikan Islam dalam pemikiran Zainuddin Labay el-Yunus. Terdapat biografi singkat Zainuddin Labay el-Yunus yaitu kegiatannya dalam mencari ilmu pengetahuan, perjalanan intelektualnya, hasil karyanya, dan jasanya dalam memperbaharui sistem pendidikan.
Terdapat juga pemikiran-pemikirannya dalam pendidikan Zainuddin Labay dapat dilihat dari sistem pendidikan yang digunakan olehnya dalam membangun Diniyah School. Ia memberi pengenalan baru tentang sistem berkelas dengan kurikulum yang lebih teratur dan diorganisasikan berdasarkan sistem klasikal, pengadaan materi pelajaran yang lengkap, bahasa pengantar dalam belajar, dan buku-buku yang digunakan.




BAB II
PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMIKIRAN ZAINUDDIN LABAY EL-YUNUS

A. Riwayat Hidup Zainuddin Labay el-Yunus
Syeikh Zainuddin Labay el-Yunus lahir dibukit Surungan Padangpanjang pada hari kamis, tanggal 12 Rajab 1308 H/1890 M. beliau meninggal pada tahun 1924 M dalam usia 34 tahun. Pada usia 8 tahun, beliau sekolah di Governement Padang panjang sampai kelas IV (empat), Beliau tidak puas dengan metode yang diajarkan waktu itu. Namun, semangatnya untuk menuntut ilmu tidak pudar begitu saja. Karenanya, beliau belajar secara otodidak, Pengetahuannya banyak diperoleh dengan membaca sendiri dan untuk itu kemampuannya dalam berbahasa Inggris, Belanda, dan Arab sangat membantunya. sampai beliau disebut seorang otodidak yang menjadi “orang” dengan tenaga sendiri. Beliau banyak membaca buku-buku, baik buku agama maupun umum. Koleksi buku-bukunya yang dapat disebutkan meliputi kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa asing ini, yang meliputi berbagai macam bidang seperti aljabar, ilmu bumi, kimia dan agama, walaupun dalam aljabar dan kimia masih berupa kitab elementer.
Karena desakan dari orang tuanya untuk sekolah, akhirnya secara berturut-turut beliau berguru kepada H. Abbas Abdullah, H. Abdullah Ahmad, dan H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Dalam perjalanan intelektualnya beliau lebih banyak bersama gurunya yang bernama H. Abbas Abdullah, seorang ulama tradisional di Padangpanjang selama enam tahun, dan selama itu pula beliau membantu gurunya mengajar. Pada tahun 1913 beliau memilih padangpanjang sebagai tempat tinggalnya yang permanen, dimana beliau masih menjadi seorang murid dan mulai membantu mengajar H. Abdullah Karim Amrullah, disurau jembatan Besi. Guru-guru di surau ini termasuk H. Rasul dan dalam waktu tertentu H. Abdullah Ahmad pun mengajar di sini.
Selain mengajar, beliau juga aktif menuangkan buah pikirannya dalam bentuk buku maupun artikel. Diantara buku karangannya adalah tentang fiqh, tata bahasa arab, biografi Musthafa Kamil, kitab ‘aqaid al-Diniyah, arsyad al-Murid. Di samping kitab-kitab tersebut beliau juga banyak menuangkan hasil karya tulisnya dalam artikel dimajalah al-Munir.
Berbeda dengan pembaharu-pembaharu lain pada zamannya, beliau lebih banyak tertarik pada kehidupan dan kegiatan kebangsaan, seperti Musthafa al-Kamil di Mesir, jika dibandingkan dengan Abduh atau Rashid Ridha yang banyak memperhatikan soal-soal agama.
Untuk mewujudkan cita-citanya, pada tanggal 10 oktober 1915 beliau mendirikan Diniyah School di Padangpanjang yang sesuai dengan ide pembaharuan. Beliau melakukan perombakan terhadap sistem dan metode pendidikan Islam, menyusun kurikulum dan daftar pelajaran yang lebih sistematis, serta mengubah sistem pendidikan surau dengan sistem pendidikan klasikal. Untuk lebih jelas mengetahui pemikiran Zainudin Labay dalam pendidikan pada bahasan selanjutnya akan membahas metode pemikiran beliau dalam dunia pendidikan.

B. Pemikiran Zainuddin Labay el-Yunus dalam Pendidikan
Dalam bidang pendidikan beliau termasuk orang pertama yang memperkenalkan sistem sekolah yang baru. Dengan membuka sekolah guru Diniyah (1915) beliau mempergunakan sistem berkelas dengan kurikulum yang lebih teratur. Beliau mendirikan Diniyah School, yang merupakan madrasah sore untuk pendidikan agama yang diorganisasikan berdasarkan sistem klasikal dan tidak mengikuti sistem pengajaran tradisional yang individual. Begitu pula susunan pelajarannya berbeda dengan yang lain, yaitu dimulai dengan pengetahuan dasar bahasa Arab sebelum memulai membaca al-Qur’an.
Materi yang ditawarkan bukan hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu umum sebagaimana yang diajarkan dilembaga pendidikan governement, seperti bahasa asing, ilmu bumi, sejarah dan matematika. Beliau juga mengorganisir sebuah klub musik untuk murid-muridnya. Selan itu, murid-murid Diniyah School pada umumnya diseleksi dengan cermat dan memenuhi syarat yang telah ditetapkan, seperti murid-murid dalam satu kelas yang rata-rata memiliki umur dan kecerdasan yang sama.
Pada permulaan tahun itu, Hamka adalah murid sekolah tersebut. Dia berpendapat bahwa Zainuddin Labay banyak mengambil metode dari Mesir dalam menyelenggarakan pendidikannya. Akan tetapi juga dapat diterima bahwa garis besar pengajaran di Madrasah ini juga memakai unsur pendidikan governement yang sudah diikuti beliau selama empat tahun, dan sejumlah besar muridnya juga masih mengikuti pendidikan pada pagi hari disekolah governement. Selain Hamka murid-murid beliau antara lain adalah, AR. St. Mansur, Duski Sanad, dan adik beliau yaitu Rahmah el-Yunusiyah.
Bahasa yang dipergunakan beliau dalam mengajar adalah bahasa Arab. Meskipun bahasa pengantar yang dipergunakan bahasa Arab, namun materi pendidikan yang diterapkan meliputi pendidikan agama dan umum yang langsung diambil dari buku-buku Mesir dan Belanda.
Dan untuk mata pelajaran bahasa Arab beliau tidak menggunakan buku atau kitab nahwu dan sharaf dalam bentuk sajak yang begitu rumit, tetapi beliau menggunakan buku yang sederhana seperti yang digunakan di sekolah dasar Mesir. Untuk mata pelajaran fiqh dan sejarah Islam yang dahulu tidak diperhatikan, beliau menyusun dalam bahasa melayu, sedang untuk kelas yang lebih tinggi dalam bahasa Arab yang sederhana. Sedangkan untuk kelas tertinggi beliau selalu menggunakan buku-buku yang diterbitkan di Kairo maupun Beirut.
Melalui pendidikan yang didirikannya, beliau mengharapkan dapat menciptakan out put yang bekualitas, tidak hanya ilmu agama yang menjadi tumpuan akhir cita-cita hidup seseorag akan tetapi ilmu umum lainnya juga. Out put seperti ini yang sangat diharapkan dan dibutuhkan umat dan bangsa ini untuk membangun peradaban dan mengejar ketertinggalannya selama ini. Dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama, beliau lebih banyak mengambil metode Mesir. Akan tetapi dalam mengajarkan ilmu-ilmu umum, beliau cenderung mengambil gagasan pembaharuan pendidikan yang dikembangkan oleh Musthafa Kamil Pasya, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Kedua pendekatan ini terlihat jelas dari kitab yang digunakan lembaga ini. Disamping kitab yang dikarangnya, beliau juga menggunakan kitab Arab sebagaimana pendidikan Mesir untuk ilmu agama dan ilmu umum menggunakan literatur Barat.
Selain melalui lembaga pendidikan formal yang didirikannya, beliau juga memanfaatkan majalah al-Munir sebagai media pendidikan agama Islam. Melalui berbagai tulisannya , beliau mencoba membuka wawasan umat Islam tentang universalitas ajaran Islam. Beliau bahkan tidak segan-segan mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan fatwa umat terdahulu, jika memang menurut pandangan beliau pendapat tersebut tidak lagi sesuai dengan ruh universal ajaran Islam. Dalam upaya ini, beliau seringkali mendapat kritikan dan tantangan dari para ulama tradisional. Beliau bahkan dituduh sebagai ulama yang sesat dan ulama Wahabi yang telah keluar dari mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Namun hal demikian tidak membuat beliau “patah semangat”, bahkan semakin mendorongnya untuk tetap kritis dan konsisten dengan ide-ide pembaharuannya. Oleh karena itu, tidak heran jika Steenbrink menilai ketokohannya sebagai sosok ulama yang memiliki kepribadian yang kokoh.
Dan perhatian beliau terhadap pembaharuan pendidikan Islam sangat kuat. Hal ini terbukti dengan aktivitas kependidikan yang dilakukannya, mulai dengan mengajar di Surau Jembatan Besi sampai akhirnya beliau mendirikan sekolah yang beliau beri nama Diniyah School pada tahun 1915.














BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian singkat di atas mengenai Zainnuddin Labay el-Yunus tentang riwayat hidup dan pemikirannya dalam pendidikan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Zainuddin Labay telah menunjukan otodidaknya menjadi seorang pembaharu dalam bidang pendidikan.
2. Beliau sangat berjasa dalam mengembangkan bahasa Arab baik sebagai bahasa pengantar, maupun bahasa yang digunakan sehari-hari.
3. Beliau telah memperkenalkan model pendidikan yang hakikatnya pada masa itu belum lazim digunakan, yaitu model klasikal.
4. Beliau telah memperkenalkan pengetahuan modern ke dalam kurikulum pendidikan Islam.
5. Usaha-usaha yang dilakukan beliau telah menghasilkan kader-kader yang tangguh dalam bidang ilmu agama sebagaiman yang diperlihatkan oleh Hamka.


Referensi :
- Departemen Agama RI. Ensiklopedia Islam di Indonesia.
- Hamka. 1950. Ayahku. Jakarta.
- Hamka. Kenang-Kenangan Hidup.
- Nata, Abuddin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Cet III. Jakarta: LWI.
- Noer, Deliar. 1985. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES.
- Rasyad, Aminuddin. 1991. Hj. Rahmah el-Yunusiyah dan Zainuddin Labay; Dua Tokoh Pembaharu Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Pengurus Perguruan Diniyah Putri Padangpanjang.
- Steenbrink, Karel A. 1986. Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Cet I. Jakarta: LP3ES.
- Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar